Minggu, 02 Juni 2013

MENEGOR ORANG TUA YANG SALAH

Amin Rmaja Tnpa Kkasih
Assamualaikum.
Sya m0 tnya..
Durhaka kah sya jka sya mlap0rkan orng tua sya k p0lisi krna sya tau orng tua sya yg salah?


JAWABAN
Wes Qie >>>  وعليكم السلام 

الموسوعة ج 17 ص 263

أجمع الفقهاْ علي أن الولد الاحتساب عليهما, لأن النصوص الواردة في الامر والنهي مطلقة تشمل الوالدين وغيرهما, ولأن الأمر والنهي لمنفعة الماْمور والمنهي, والأب والأم أحق أن يوصل الولد اليهما ألمنفعة ولكن لا يتجاوز مرتبتي التعرف والتعريف

Ulama fiqh telah sepakat bahwa seorang anak di perbolehkan melakukan amar makruf dan nahi anil mungkar kepada kedua orang tuanya, karena nash nash al quran dan hadis yg datang menjelaskan tentang amar makruf dan nahi anil quran adalah berbentuk mutlak, artinya juga mencakup pada orang tua dan yg lain. di samping itu tujuan amar makruf nahi anil mungkar adalah untuk kemanfaatan orang yg di perintah berbuat baik, dan orang yg di larang berbuat mungkar. sedangkan kedua orang tua lebih berhak mendapatkan kemanfaatan yg di sampaikan oleh anaknya, hanya saja bentuk amar makrufnya dari anak kepada orang tua bersifat pemberitahuan

Link Asal : https://www.facebook.com/groups/Fiqhsalafiyyah/permalink/500585443346149/?comment_id=501186716619355&offset=0&total_comments=47

MENINGGAL DIBULAN RAMADHAN SEBELUM MENGODHO' PUASANYA

Ifas Irama
Assalamu'alikum... Pertanyaan titipan dr ustadz Xavi Halim Al Qadiri
mo gabung ni.
seumpama da org sakit waktu bulan puasa
sampe' dia tdk puasa pas pertengahan bulan
dia meninggal. naah gmana tuh cara
qhodo'nya.


  • JAWABAN
Brojol Gemblung >>> Kira-kira ibaroh seperti ini pas tidak untuk kasus seperti di atas :

ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺍﻷﺧﻴﺎﺭ ﻓﻲ ﺣﻞ ﻏﺎﻳﺔ ﺍﻻﺧﺘﺼﺎﺭ 1/212 : 

ﻗﺎﻝ : ﻭﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺻﻮﻡ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻃﻌﻢ ﻋﻨﻪ ﻟﻜﻞ ﻳﻮﻡ ﻣﺪ ﻭﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻔﺎﻧﻲ ﺇﻥ ﻋﺠﺰ ﻋﻦ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻳﻔﻄﺮ ﻭﻳﻄﻌﻢ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻣﺪﺍ. 

ﻣﻦ ﻓﺎﺗﻪ ﺻﻴﺎﻡ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﻣﺎﺕ ﻧﻈﺮ: ﺇﻥ ﻣﺎﺕ ﻗﺒﻞ ﺗﻤﻜﻨﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺑﺄﻥ ﻣﺎﺕ ﻭﻋﺬﺭﻩ ﻗﺎﺋﻢ ﻛﺎﺳﺘﻤﺮﺍﺭ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﻓﻼ ﻗﻀﺎﺀ ﻭﻻ ﻓﺪﻳﺔ ﻭﻻ ﺇﺛﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺇﻥ ﻣﺎﺕ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺘﻤﻜﻦ ﻭﺟﺐ ﺗﺪﺍﺭﻙ ﻣﺎ ﻓﺎﺗﻪ.

Syech Abu Syuja' berkata : Barangsiapa meninggal dunia dan mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, maka harta peninggalannya diambil satu mud sebagai ganti puasanya tiap-tiap satu hari. Dan orang tua yg lanjut usia, apabila tidak kuat berpuasa maka diperbolehkan untuk berbuka dan harus memberi makan satu mud untuk tiap-tiap satu harinya.

Barangsiapa tetinggal puasa dari bulan Ramadhan kemudian dia meninggal, maka dipertimbangkan dahulu; Apabila meninggalnya sebelum dia sempat mengqadha` puasanya, misalnya ketika meninggal dia masih tetap 'udzur karena terus menerus sakit, maka tidak wajib mengqadha` dan tidak wajib membayar fidyah serta tidak berdosa. Dan apabila meninggalnya setelah dia bisa mengqadha` puasanya, maka wajib menyusuli puasa yg tertinggal itu.


Kakek Jhosy >>> Ikutan nyumbang kemungkinan pas he he . . . . . 

Referensi
شرح النووي على مسلم ج ٨ ص ٢٣
قال أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي ( المتوفى: ٦٧٦هـ ) فَأَمَّا مَنْ أَفْطَرَ فِي رَمَضَانَ بِعُذْرٍ ثُمَّ اتَّصَلَ عَجْزُهُ فَلَمْ يَتَمَكَّنْ مِنَ الصَّوْمِ حَتَّى مَاتَ فَلا صَوْمَ عَلَيْهِ وَلا يُطْعَمُ عَنْهُ وَلا يُصَامُ عَنْهُ

Referensi
الحاوي الكبير ج ٣ ص ٤٥٣
وقال أبو الحسن علي بن محمد بن محمد بن حبيب البصري البغدادي، الشهير بالماوردي ( المتوفى: ٤٥٠هـ ) فَإِنْ مَاتَ قَبْلَ إِمْكَانِ الصَّوْمِ فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ وَإِنْ مَاتَ بَعْدَ إِمْكَانِ الصَّوْمِ فَعَلَيْهِ الْكَفَّارَةُ فِي مَالِهِ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ لِمِسْكِينٍ، 

Referensi
البيان في مذهب الإمام الشافعي ج ٣ ص ٥٤٥
وقال أبو الحسين يحيى بن أبي الخير بن سالم العمراني اليمني الشافعي ( المتوفى: ٥٥٨هـ ) إذا كان عليه قضاء من شهر رمضان، فلم يصم حتى مات.. نظرت: فإن دام العذر إلى أن مات.. لم يجب أن يطعم عنه، وبه قال عامة الفقهاء

Referensi
المنهاج القويم شرح المقدمة الحضرمية ص ٢٥١
وقال أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي ( المتوفى: ٩٧٤هـ ) وإنما يجب القضاء حيث تجب الفدية عنه لو مات قبل صومه إن أخره "بعد التمكن" منه؛ وإلا بأن مات عقب موجب القضاء أو استمر به العذر إلى موته أو سافر أو مرض بعد أول يوم من شوال إلى أن مات فلا فدية عليه لعدم تمكنه منه

Link asal : https://www.facebook.com/groups/Fiqhsalafiyyah/permalink/501384586599568/?comment_id=501693439902016&offset=0&total_comments=24

HUKUM AQIQOH HANYA 1 EKOR BUAT ANAK LAKI-LAKI

Dokter Eko Hadi Prayitno
Assalamu'alaikum...
Mau tanya jika seorang kepala keluarga mempunyai anak putra pertama
dan ayah tadi hanya bisa aqiqah 1 kambing dan sampai sekarang belum di aqiqohi lagi harusnya kan 2,..
Bagaimana hak ayah tadi terhadap anaknya?
Trimakasih
wassalamu'alaikum

JAWABAN
Syifa Ramadhany Forza Juventini >>> Menurut imam tiga Aqiqoh bagi anak laki2 yaitu dua .dan bagi perempuan 1 ekor
Sedangkan menurut imam malik 1 ekor buat anak laki2 itu cukup seperti hanya ank perempuan

Referenssi
Aliyatul mawaidz halaman 77
ومنها العقيقة : قال الشعراني في الميزان . العقيقة عند مالك والشافعي مستحب . وعند أحمد في أشهر روايتية سنة . والثانية وإنها واجبات . واختارها بعض أصحابه وهو مذهب الحسن البصري وإن السنة في العقيقة عند الأئمة الثلاث : عن الغلام شاتان ,وعن الجارية واحدة , وقال مالك عن الغلام شاة واحدة كما في الجارية

Referensi
نيل الأوطار - الشوكاني - ج ٥ - الصفحة ٢٢٤
وعن عائشة قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: عن الغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية شاة رواه أحمد والترمذي وصححه. وفي لفظ: أمرنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أن نعق عن الجارية شاة وعن الغلام شاتين رواه أحمد وابن ماجة. وعن أم كرز الكعبية أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عن العقيقة فقال: نعم عن الغلام شاتان وعن الأنثى واحدة


Jawaban ke 2
Brojol Gemblung >>> Wa'alaikumussalam

Aqiqah itu sunnah, tidak wajib. Dan andai kemampuannya hanya menyembelih satu kambing saja maka hal itu sudah mencukupi dan mendapat kesunnahan aqiqah.

ﻣﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ - ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﻟﺸﺮﺑﻴﻨﻲ - ﺝ - ٤ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٢٩٣ :

ﻭﻳﺘﺄﺩﻯ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻐﻼﻡ ﺑﺸﺎﺓ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ: ﺃﻧﻪ ﺹ ﻋﻖ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﻛﺒﺸﺎ ﻛﺒﺸﺎ. 

Dan telah mendapat kesunahan aqiqah ialah menyembelih seekor kambing untuk anak laki-lakinya karena terdapat riwayat Abu Daud dg sanad yg shahih bahwa Nabi swa. mengaqiqahi Hasan dan Husain dg seekor domba seekor domba (1 untuk Sayyid Hasan dan 1 untuk Sayyid Husain).
************************
ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ - ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺍﻟﻘﻮﻳﻢ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻘﺪﻣﺔ ﺍﻟﺤﻀﺮﻣﻴﺔ ﻟﻠﻬﻴﺘﻤﻲ 1/384 : 

ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺠﺰﻯﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﺷﺎﺓ ﺑﺼﻔﺔ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ ﺳﻮﺍﺀ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻷﻧﺜﻰ ﻭ ﻟﻜﻦ ﺍﻷﻛﻤﻞ ﺷﺎﺗﺎﻥ ﻣﺘﺴﺎﻭﻳﺘﺎﻥ ﻟﻠﺬﻛﺮ ﻭﻳﺤﺼﻞ ﺑﺎﻟﻮﺍﺣﺪﺓ ﻓﻴﻪ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻤﺎ ﺻﺢ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﻧﻌﻖ ﻋﻦ ﺍﻟﻐﻼﻡ ﺑﺸﺎﺗﻴﻦ ﻣﺘﺴﺎﻭﻳﺘﻴﻦ ﻭﻋﻦ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﺑﺸﺎﺓ.

Link asal : https://www.facebook.com/groups/Fiqhsalafiyyah/permalink/501422089929151/

HUKUM YANG BERHAK JADI PEMIMPIN SHALAT JANAZAH


  • Oleh : Kakek Jhosy
 Siapakah yang berhak memimpin shalat jenazah?

Para ahli fiqih memiliki tiga pendapat, yaitu sebagai berikut.

Pendapat pertama :Madzhab Hanafi :
Sultan jika hadir ataupun wakilnyalah yang lebih berhak untuk memimpin shalat jenazah karena sebab kepemimpinannya. Karena, ke­tika orang lain yang maju memimpin shalat maka sama saja menghinanya. jika sultan tidak datang maka hakim, sebab dialah pemegang kekuasaan. jika hakim tidak hadir juga maka imam kampung yang maju memimpin, karena orang yang meninggal itu telah merestui ke­tika ia masih hidup maka dialah yang paling berhak untuk memimpin shalat atas jenazah­nya setelah meninggalnya. Berikutnya, didahu­lukan wali laki-laki yang mukallaf dengan urut­an keluarga ataupun wali nikali kecuali ayah maka lebih didahulukan daripada anaknya. Didahulukan pula orang yang paling dekat lalu berikutnya seperti urutan mereka dalam hal perwalian nikali. Siapa saja yang memiliki hak untuk maju memimpin hendaknya mengizin­kan orang lain juga untuk maju. Siapa saja yang memiliki kekuasaan untuk maju memimpin maka dialah yang lebih berhak daripada orang Yang telah diwasiatkan oleh sang mayat dalam memimpin shalatnya menurut pendapat yang telah difatwakan, karena wasiatnya adalah batal.
jika seseorang dishalati -oleh selain pe­mimpin, sultan, ataupun wakilnya maka sang pemimpin boleh mengulang shalat tersebut meskipun di atas kuburnya jika ia mau. Itu di­lakukan karena haknya bukan demi gugurnya kewajiban. Sedangkan jika pemimpin yang me­mimpin shalat maka tidak boleh seorangpun memimpin shalat lagi setelahnya. Sebab, ke­wajiban itu telah dilakukan pada pelaksanaan pertama, sedang melakukan shalat tambahan untuk jenazah tidak diayariatkan.
Jika jenazah dikuburkan dan belum sem­pat dishalati maka jenazah itu dishalati di atas kuburnya selama diperkirakan belum rusak mayatnya karena telah berbedanya keadaan, waktu, dan tempat.


Pendapat kedua : Madzhab Maliki dan Madzhab Hambali : orang yang paling berhak untuk memimpin shalat jenazah adalah orang yang telah diwasiatkan oleh mayat untuk mensha­latinya, demi mengamalkan apa yang telah dilakukan oleh para sahabat. Abu Bakar r.a. pernah berwasiat agar Umar menshalatinya. Umar r.a. juga pernah berwasiat agar Shuhaib menshalatinya. Aiayah r.a. berwasiat agar Abu Hurairah menshalatinya. Ummu Salamah ber­wasiat agar Said bin 'laid yang menshalatinya.. dan seterusnya. Berikutnya, pemimpin, atau gubernur, seperti hadits sebelumnya (لاَ يُؤُمِّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فيِ سُلْطَانِهِ) Tidak boleh seseorang itu mengimami orang lain dalam kepemimpinannya" Selanjut­nya, para wali keluarga sesuai urutan perwalian mereka dalam nikali maka didahulukan ayah meskipun tinggi, lalu anak meskipun di bawah, baru setelah itu orang yang lebih dekat dan seterusnya dari keluarga. Saudara lebih didahulukan, lalu paman, anak paman, dan begitu seterusnya. Akan tetapi, menurut Maliki, saudara dan anak lebih didahulukan daripada kakek karena lebih mewakili anak, sedang kakek lebih mewakili bapak. Kaum wanita dalam mazhab Maliki boleh memimpin shlaat ketika tidak adanya kaum laki-laki dalam satu gelombang, karena tidak sah kepemimpinan shalat mereka jika ada kaum laki-laki. Didahulukan orang yang lebih Utama dan berikutnya maka didahulukan laki-laki dari wanita, orang dewasa dari anak kecil, dan siapa saja yang memiliki kedalaman agama. jika semua orang sama maka didahulukan orang yang lebih tua. jika semua sama maka didahulukan dengan cara diundi ataupun ke­relaan. Ini adalah pendapat Maliki. Sedangkan ungkapan Hambali, didahulukan orang yang paling berhak untuk menjadi imam dalam shalat lima waktu, karena umumnya maksud dari sabda Nabi saw..... ((يَؤُمُ القَوْمُ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتاَبِ اللهِ Hendaknya orang yang memimpin shalat suatu kaum itu adalah orangyang paling indah bacaan Al-Qur'annya.


Pendapat ketiga :Madzhab Syafi'i dalam pendapat yang baru: pemimpin lebih berhak untuk memimpin shalat daripada walinya. jika mayat telah berwasiat kepada selain wali (ke­luarga) untuk memimpin shalat, sedang shalat itu adalah hak keluarga maka wasiatnya tidak perlu dilaksanakan dengan menganggapnya gugur seperti harta warisan. Sebab, maksud dari shalat jenazah itu sendiri adalah doa un­tuk mayat, sedang doa keluarga itu lebih dekat untuk dikabulkan karena rasa sedih dan terpu­kulnya. Adapun wasiat para sahabat r.a. diang­gap bahwa para keluarga mereka memboleh­kan dilaksanakannya wasiat tersebut. Karena itulah, didahulukan ayah, lalu kakek meskipun jauh, lalu anak, lantas cucu meskipun jauh, dan saudara. Menurut pendapat yang paling dza­hir itu lebih mendahulukan saudara kandang daripada saudara satu ayah. Berikutnya, ke­ponakan dari saudara kandang, lalu kepona­kan dari saudara satu ayah. Selanjutnya, sisa keluarga sesuai urutan warisan. Paman kandang lebih didahulukan dari paman satu ayah, sepupu dari paman kandang didahulukan dari satu ayah.Selanjutnya, keluarga yang lain, orang yang lebih dekat lebih dahulukan dari selain­nya. Kakek dari ibu didahulukan, lalu saudara ibu, lalu paman dari ibu, lalu paman ibu.Jika berkumpul dua wali dalam satu dera­jat, seperti dua anak atau dua saudara dan ke­duanya berhak atas kepemimpinan shalat maka yang paling diutamakan dalam Islam adalah orang yang paling adil lebih berhak daripada ahli fiqih dan sejenisnya.


Referensi : 
الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ ج ٢ ص ٦٢٥- ٦٢٧

للفقهاء آراء ثلاثة 

الرأي الأول ـ للحنفية: السلطان إن حضر أو نائبه أحق بالصلاة على الميت بسبب السلطنة، ولأن في التقدم عليه ازدراء به، فإن لم يحضر فالقاضي؛ لأنه صاحب ولاية، فإن لم يحضر فيقدم إمام الحي؛ لأنه رضيه في حياته، فكان أولى بالصلاة عليه في مماته، ثم يقدم الولي الذكر المكلف بترتيب عصوبة أو أولياء النكاح إلا الأب فيقدم على الابن، ويقدم الأقرب فالأقرب كترتيبهم في ولاية الزواج. ولمن له حق التقدم أن يأذن لغيره. ومن له ولاية التقدم أحق ممن أوصى له الميت بالصلاة عليه على المفتى به؛ لأن الوصية باطلة

فإن صلى عليه غير الولي والسلطان ونائبه، فللولي إعادة الصلاة، ولو على قبره إن شاء، لأجل حقه، لا لإسقاط الفرض. وإن صلى الولي لم يجز لأحد أن يُصلي عليه بعده؛ لأن الفرض تأدى بالأول، والتنفل بالصلاة على الجنازة غير مشروع
فإن دفن ولم يُصَلَّ عليه، صلِّي على قبره، ما لم يغلب على الظن تفسخه، لاختلاف الحال والزمان والمكان

الرأي الثاني ـ للمالكية والحنابلة: أحق الناس بالصلاة على الميت: من أوصى الميت أن يصلي عليه، عملاً بفعل الصحابة، فقد أوصى أبو بكر أن يصلي عليه عمر، وعمر أوصى أن يصلي عليه صهيب، وعائشة أوصت أن يصلي عليها أبو هريرة، وأم سلمة أوصت أن يصلي عليها سعيد بن زيد...إلخ، ثم الوالي أو الأمير، للحديث السابق( لا يؤم الرجل الرجل في سلطانه ) ثم الأولياء العصبات على ترتيب ولايتهم في النكاح، فيقدم الأب وإن علا، ثم الابن وإن سفل، ثم الأقرب فالأقرب من العصبات، فيقدم الأخ، ثم العم ثم ابن العم، وهكذا
لكن يقدم الأخ وابنه عند المالكية على الجد؛ لأنه يدلي بالبنوة، والجد يدلي بالأبوة. ويصلي النساء في المذهب المالكية عند عدم الرجال دفعة واحدة أفذاذاً، إذ لا تصح إمامتهن لديهم
ويقدم الأفضل فالأفضل، فيقدم الرجال على النساء، والكبار على الصغار، ومن له مزية دينية، فإن استووا قدم بالسن، فإن استووا قدم بالقرعة أو التراضي.هذا قول المالكية. وعبارة الحنابلة: يقدم الأحق بالإمامة في المكتوبات، لعموم قول النبي صلّى الله عليه وسلم ) يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله )

الرأي الثالث ـ للشافعية في الجديد: أن الولي أولى بالإمامة من الوالي، وإن أوصى الميت لغير الولي، لأن الصلاة حقه، فلا تنفذ وصيته بإسقاطها كالإرث، لأن المقصود من الصلاة على الجنازة هو الدعاء للميت، ودعاء القريب أقرب إلى الإجابة لتألمه وانكسار قلبه. وأما وصايا الصحابة بالصلاة عليهم، فمحمولة على أن أولياءهم أجازوا الوصية. فيقدم الأب، ثم الجد وإن علا، ثم الابن، ثم ابنه وإن سفل، ثم الأخ، والأظهر تقدم الأخ الشقيق على الأخ لأب، ثم ابن الأخ الشقيق، ثم لأب، ثم بقية العصبة النسبية على ترتيب الإرث، فيقدم عم شقيق ثم لأب، ثم ابن عم شقيق ثم لأب
ثم ذوو الأرحام،يقدم الأقرب فالأقرب، فيقدم أبو الأم، ثم الأخ لأم، ثم الخال، ثم العم لأم ولو اجتمع وليان في درجة كابنين أو أخوين، وكلاهما صالح للإمامة، فالأسن في الإسلام العدل أولى من الأفقه ونحوه


Referensi : 
 الفقه على المذاهب الأربعة ج ١ ص ٨١٧ 
مبحث الأحق بالصلاة على الميت
في الأحق بالصلاة على الميت اختلاف في المذاهب مذكورة تحت الخط ( الحنفية قالوا : يقدم في الصلاة عليه السلطان إن حضر ثم نائبه وهو أمير المصر ثم القاضي ثم صاحب الشرطة ثم إمامه الحي إذا كان أفضل من ولي الميت ثم ولي الميت على ترتيب العصبة في النكاح فيقدم الابن ثم ابن الابن وإن سفل ثم الأب ثم الجد وإن علا ثم الأخ الشقيق ثم الأخ الأب ثم ابن الأخ الشقيق وهكذا الأقرب فالأقرب كما هو مفصل في " باب النكاح " فإن لم يكن له ولي قدم الزوج ثم الجيران وإذا أوصى لأحد بأن يصلي عليه أو بأن يغسله فهي وصية باطلة لا تنفذ ولمن له الحنفية قالوا : التقدم أن يأذن غيره في الصلاة

الحنابلة قالوا : الأولى بالصلاة عليه إماما : الوصي العدل فإذا أوصى بأن يصلي عليه شخص عدل قدم على غيره ثم السلطان ثم نائبه ثم أب الميت وإن علا ثم ابنه وإن نزل . ثم الأقرب فالأقرب على ترتيب الميراث ثم ذوو الأرحام ثم الزوج فإن تساوى الأولياء في القرب كإخوة أو أعمام قدم الأفضل منهم على ترتيب الإمامة وقدم تقدم في صلاة الجماعة فإن تساووا في جميع جهات التقديم أقرع بينهم عند التنازع وإذا أناب الولي عنه واحدا كان بمنزلته فيقدم على من يليه في الرتبة بخلاف نائب الوصي فلا يكون بمنزلته

الشافعية قالوا : الأولى بإمامتها أب الميت وإن علا ثم ابنه وإن سفل ثم الأخ الشقيق ثم الأخ لأب ثم ابن الأخ الشقيق ثم ابن الأخ لأب وهكذا على ترتيب الميراث . فإن لم يكن قريب قدم معتق الميت ثم عصبته الأقرب فالأقرب ثم الإمام الأعظم أو نائبه ثم ذوو الأرحام الأقرب فالأقرب ويقدم الأسن في الإسلام العدل عند التساوي في درجة كابنين ثم الأفقه والأقرأ والأورع وإذا أوصى بالصلاة عليه لغير من يستحق التقدم ممن ذكر فلا تنفذ وصيته

المالكية قالوا : الأحق بالصلاة على الميت من أوصى الميت بأن يصلي عليه إذا كان الإيصاء لرجاء بركة الموصى له وإلا فلا ثم الخليفة وهو الإمام الأعظم وأما نئبه فلا الحنفية قالوا : له في التقدم إلا إذا كان نائبا عنه في الحكم والخطبة ثم أقرب العصبة فيقدم الابن ثم ابنه ثم الأخ ثم ابن الأخ ثم الجد ثم العم ثم ابن العم وهكذا فإن تعددت العصبة المتساوون في القرب من الميت تقدم الأفضل منهم لزيادة فقه أو حديث ونحو ذلك ولا الحنفية قالوا : لخروج غير عصبة الميت في التقدم بخلاف السيد فله الحق ويكون بعد العصبة فإن لم يوجد عصبة ولا سيد فالأجانب سواء إلا أنه الأفضل منهم كما في صلاة الجماعة وقد تقدم

Link Asal : http://www.facebook.com/groups/Fiqhsalafiyyah/permalink/501500796587947/

Sabtu, 01 Juni 2013

HUKUM MENCIUM AL-QUR'AN

Nurah Temo Hosny
...Assalamu'alaikum wa rahmattullah.

Ana mau nanya persoalan yang Penting.

Apakah Mencium Kitab Suci Al_Qur'an itu tidak boleh?? Karna ana pernah baca di page info facebook.
Kita tidak boleh mencium al_qur'an, karna Rasulullah pun tak pernah mencium nya.,

Kenapa ya Sekarang sekarang ini banyak Pertentangan tentang agama Islam...

Bukan nya Mencium Al_Qur'an Sama hal nya kita dengan Mencintai Allah...itu kan Kitab suci yg Allah turunkan Untuk Umat ISLAM..,

Ana Sedikit Tersinggung Si Baca Berita itu,,,

Sukran Kulukum



Syifa Ramadhany Forza Juventini >>>Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Secara umum, baik itu sesudah membaca al-qur'an atau tidak, mencium mushaf al-qur'an hukumnya mubah (boleh). Imam As-Subki menjelaskan, kebolehan mencium mushaf diqiyaskan dengan mencium hajar aswad, tangan orang yang alim, orang yang sholih dan orang tua, karena sudah maklum bahwasanya al-qur'an lebih mulia dari pada hal-hal tersebut. 

Bahkan menurut sebagian ulama' mencium mushaf hukumnya sunat, sebagaimana difatwakan oleh Syekh Ibnu Abis Shoif, pendapat ini didasarkan pada kesunatan mencium hajar aswad. Imam Nawawi dalam kitab "At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an" meriwayatkan ;

عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، أَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ، كَانَ يَضَعُ الْمُصْحَفَ عَلَى وَجْهِهِ وَيَقُولُ: كِتَابُ رَبِّي، كِتَابُ رَبِّي
Dari Ibnu Abi Malikah, bahwasanya Ikrimah bin Abu Jahal meletakkan mushaf pada mukanya, sambil berkata : "Kitab Tuhanku"
(Sunan Darimi, no.3393)

Imam Suyuthi dalam kitab beliau, "Al-Itqon Fi Ulumil Qur'an" menjelaskan bahwa hukum mencium al-qur'an adalah sunat berdasarkan riwayat yang menyatakan bahwa Ikrimah bin Abu Jahal rodhiyallohu 'anhu melakukannya, dan diqiyaskan pada kesunatan mencium hajar aswad. Selain itu, Al-qur'an adalah hadiah (pemberian) dari Alloh subhanahu wata'ala, maka dari itu dianjurkan untuk menciumnya sepertihalnya disunatkan untuk mencium anak kecil (yang juga merupakan karunia dari Alloh). Wallohu a'lam


Referensi
Hasyiyah As-Syarwani Ala Tuhfatul Muhtaj, Juz : 1 Hal : 155
واستدل السبكي على جواز تقبيل المصحف بالقياس على تقبيل الحجر الأسود، ويد العالم والصالح والوالد إذ من المعلوم أنه أفضل منهم اهـ

Referensi
Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarhil Manhaj, Juz : 2 Hal : 437
قال بعضهم يؤخذ من هنا أي من سن تقبيل الحجر الأسود سن تقبيل المصحف والمنبر الشريف والقبر الشريف أيضا ومثله قبور بقية الأنبياء والصالحين وأجزاء الحديث أفتى بذلك ابن أبي الصيف من الشافعية اهـ. توشيح على الجامع الصحيح هكذا وجدته بهامش حاشية الزيادي

Referensi
At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an, Hal : 191
وروينا في مسند الدارمي باسناد صحيح عن ابن أبي مليكة أن عكرمة بن أبي جهل رضي الله عنه كان يضع المصحف على وجهه ويقول كتاب ربي

Referensi
Al-Itqon Fi Ulumil Qur'an, Hal : 189
فرع : يستحب تقبيل المصحف لأن عكرمة بن أبي جهل رضي الله عنه كان يفعله وبالقياس على تقبيل الحجر الأسود، ذكره بعضهم، ولأنه هدية من الله تعالى فشرع تقبيله كما يستحب تقبيل الولد الصغير

Referensi
Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 13 Hal : 133-134
تقبيل المصحف
ذكر الحنفية: وهو المشهور عند الحنابلة - جواز تقبيل المصحف تكريما له، وهو المذهب عند الحنابلة، وروي عن أحمد استحبابه، لما روي عن عمر رضي الله عنه أنه: كان يأخذ المصحف كل غداة ويقبله، ويقول: عهد ربي ومنشور ربي عز وجل، وكان عثمان رضي الله عنه يقبل المصحف ويمسحه على وجهه. وقال النووي في التبيان: روينا في مسند الدارمي بإسناد صحيح عن ابن أبي مليكة أن عكرمة بن أبي جهل كان يضع المصحف على وجهه ويقول: كتاب ربي كتاب ربي. ونقل صاحب الدر عن القنية: وقيل: إن تقبيل المصحف بدعة، ورده بما تقدم نقله عن عمر وعثمان. وروي كذلك عن أحمد: التوقف في تقبيل المصحف

Link Asal : http://www.facebook.com/groups/Fiqhsalafiyyah/permalink/501394889931871/?comment_id=501461373258556&offset=0&total_comments=1

HUKUM PUASA YANG DIMAKRUHKAN


  • Oleh : Kakek Jhosy
HUKUM PUASA YANG DIMAKRUHKAN


Menurut Mazhab Hanafi : 


Shaum yang dimakruhkan dua macam; makruh tahrim dan makruh tanzih.

Makruh tahriem : Yang masuk dalam kelompok makruh tahrim adalah; shaum 'eid (hari raya idul fitri dan adha serta hari-hari tasyriq) dan shaum syak. Dalilnya, karena ada data hadis yang melarang itu semua. Jika ada orang yang berpuasa di hari yang terlarang itu maka puasanya disertai pelanggaran dan terhitung berdosa (ini artinya puasa tetap sah secara syarat dan rukun yang terpenuhi tetapi disertai dosa karena pelanggaran waktu). Tidak diharuskan meng-qodho bagi yang shaum di hari itu lalu ia sengaja membatalkannya. Alasannya, bahwa pokok pemikiran menurut kalangan ulama Hanafiyah adalah pelarangan yang mengarah kepada suatu kriteria amal yang semestinya ia tetapi akar amal tetap berada dalam masyru'iyah-nya.

Makruh tanzih : Kelompok kedua ini termasuk di dalamnya; shaum tunggal di hari 'Asyura (10 Muharram) tanpa menyertainya dengan tanggal 9 atau 11 Muharram. Shaum tunggal di hari Jumat -  dalam sebagian pendapat mazhab Hanafi  shaum tunggal di hari Sabtu, Shaum hari Nirous (sehari di panggal musim semi), shaum hari Mahrajan (sehari di pangkal musim bunga) kecuali jika hari itu bertepatan dengan hari kebiasaan dirinya untuk shaum. Jika demikian halnya maka ia tidak dihukumkan makruh. Adapun kemakruhan shaum di hari Jumat karena dalil dari hadis "Jangan kalian khususkan malam Jumat untuk qiyam secara tunggal sementara malam-malam yang tidak diisi dengan qiyam. Jangan kalian mengkhususkan hari Jumat untuk Shiam sementara hari-hari yang lain tidak diisi dengan Shiam, kecuali memang hari Jumat itu berada di shaum yang sedang dilaksanakan oleh kalian"

Adapun dalil hari Sabtu dimakruhkan shaum karena hadis "Jangan kalian berpuasa di hari Sabtu kecuali hari Sabtu itu hari yang diwajibkan atas kalian. Seandainya di hari itu kalian pun tidak punya sesuatu yang dapat dimakan, maka setidaknya kalian ambil 'anbah atau bahkan kulit pohon lalu dikunyah

Adapun shaum di hari Nirous dan Mahrajan dimakruhkan karena dengan demikian memberi kesan bagi kita menghormati/membesarkan hari-hari yang kita dilarang membesarkannya.

Makruh tanzih berikutnya adalah Shaum Dahr. Alasannya (illat hukumnya) sederhana sekali, yaitu karena berpuasa setiap hari  di luar Ramadhan  dapat melemahkan fisik. Hadisnya adalah: Tidak disebut puasa bagi yang berpuasa sepanjang masa. Dimakruhkan juga Shaum Shamt; yaitu puasa yang tidak disertai bicara sepatah kata pun. Padahal ia diharuskan berbicara yang baik dan karena kebutuhan yang mengharuskannya demikian. Shaum Wishol hukumnya makruh meskipun dilakukan dua hari saja. Shaum Wishol adalah; puasa 24 jam hingga disambung ke hari berikutnya. Ini dilarang oleh Rasul. Sabda beliau "Jauhi al-wishol". Aisyah r.a. mengatakan "Nabi  Saw  melarang para sahabat berpuasa Wishol sebagai bukti rahmat untuk umat " Karena para sahabat melihat Rasul pernah melakukan puasa bersambung hingga fajar dan hari berikutnya, maka mereka berkata kepada Rasul"Engkau pun menyambung puasa". Rasul menjawab "Aku tidak seperti kondisi kalian. Aku ini diberi makan oleh Rabbku dan ia juga memberiku minum(Muttafaq 'alaih) Orang sedang dalam perjalan (Shaum Musafir) hukumnya makruh selama puasa itu menambah beban perjalannya (memberatkan) Puasa sunat seorang istri menjadi dimakruhkan jika tanpa izin dari suami. Suami berhak meminta istri membatalkannya, karena alasan untuk mendapatkan hak atau 'kebutuhan'-nya, kecuali suami itu dalam keadaan sakit, atau puasa, atau sedang berihram haji atau umrah.


Menurut Mazhab Maliki : 

Terdapat keragaman pendapat di kalangan mazhab ini. Di antaranya Ulama Besar Khalil mengatakan: Sunat hukumnya Shaum Dahr dan tidak dimakruhkan. Alasannya, karena tidak ada yang menyalahkan apabila puasa itu dilaksanakan atas nama nadzar. Seandainya itu makruh atau terlarang niscaya menadzarkannya pun dilarang. Sementara itu kaidah tidak mengatakan demikian. Pendapat Khalil yang lain adalah sunat hukumnya puasa hari Jumat dan tidak dimakruhkan. Sebab, wilayah pelarangan itu adalah karena dikhawatirkan nantinya menjadi diwajibkan. Maka, kekhawatiran pewajiban itu kini sudah tidak ada lagi karena Nabi –Saw– sudah wafat, maka tidak ada lagi pewajiban syariah sepeninggal Nabi Saw, sehingga hukumnya tetap menjadi sunat.

Ulama mazhab Maliki yang berseberangan pendapat dengan Khalil adalah Ibn Juzay. Ia mengatakan "Makruh hukumnya 
(1)Shaum Dahr 
(2)Shaum hari Jumat secara khusus kecuali ada puasa sebelum atau setelahnya 
(3)Shaum hari 'Arafah di Arafah 
(4)Shaum hari Syak; yaitu hari terakhir bulan Sya'ban sebagai kehati-hatian jika hilal tidak terlihat 
(5)Shaum hari ke-4 Dzulhijjah, kecuali sebagai pengganti dam bagi yang haji tamattu' atau qiran, atau karena apa pun sebagai pengganti dam sebab pelarangan ihram, atau karena membayar nadzar atau puasa kifarat, maka hukumnya tidak dimakruhkan"

Dalam mazhab ini makruh hukumnya puasa sunat jika yang bersangkutan masih memiliki kewajiban mengqodho puasa wajib. Makruh juga hukumnya seorang tamu puasa tanpa izin dari penjamu (ahli bayt) Selain itu, makruh puasa di hari kelahiran Nabi Saw karena mirip sekali hari-hari besar agama lain. Dimakruhkan bernadzar puasa di hari yang sama berulang kali, seperti tiap hari Kamis, karena merutinkan hari dengan ketat dapat menyebabkan rasa berat dan penyesalan, dimana pada akhirnya model puasa seperti ini lebih dekat kepada ketidak-taatan.

Berikutnya, makruh hukumnya berpuasa sunat sebagai pendahuluan bagi puasa wajib yang tidak ditentukan seperti puasa wajib qodho Ramadhan atau wajib karena Kifarat. Makruh menentukan puasa tiga hari putih setiap bulan (tanggal 13 14 dan 15 setiap bulan qomariah) karena menghindari tahdid. Sama juga halnya dengan puasa 6 hari Syawal jika menyambungkan persis setelah hari raya dengan maksud menampakkan bahwa ia sudah mulai puasa enam. Tetapi tidak dimakruhkan jika puasa 6 dilaksanakan pada hari-hari terpisah, atau dibelakangkan, atau ia diam-diam saja karena terhindar dari iktikad seakan-akan puasa itu suatu kemestian (wajib


Menurut Mazhab Syafi'i : 

Para ulama mazhab ini berpendapat, makruh menunggalkan puasa di hari Jumat, menunggalkan hari Sabtu dan menunggalkan hari Minggu. Makruh juga hukumnya Shaum Dahr selain Ai'd dan Hari-hari Tasyriq bagi yang khawatir mengalami mudhorat, atau khawatir tidak teraihnya hak wajib atau sunat. Dalilnya adalah hadis yang diterangkan sebelumnya ditambah lagi dengan hadis riwayat Bukhari "Sesungguhnya tuhanmu berhak atasmu, keluargamu juga berhak atas dirimu dan tubuhmu juga berhak atas dirimu". Di samping itu juga dimasukkan sebagai dalil atas kemakruhan itu hadis Bukhari dan Muslim; Tidak ada shaum bagi orang yang shaum sepanjang masa". Tetapi, ulama mazhab ini berpendapat sunat melakukan Shaum Dahr bagi orang yang tidak khawatir terjadi mudhorat pada dirinya atau kehilangan hak dari keluarga dan tubuhnya. Alasan pendapat ini adalah karena dalil-dalil tidak membatasi sifat-sifatnya dan ditambah lagi dengan alasan bahwa Rasulullah -Saw- bersabda : "Orang yang puasa sepanjang tahun akan dipersempit pintu Jahannam bagi dirinya". Pendapat ini juga sama dengan pendapat ulama-ulama di di mazhab Hambali : Dimakruhkan juga berpuasa bagi orang yang sakit, orang yang sedang dalam perjalanan, wanita hamil, wanita menyusui, orang lanjut usia, selama mereka ini khawatir akan terjadi kesulitan dalam melaksanakannya. Jumhur ulama melihat bahwa redaksi tektual hadis tentang shaum Dahr yang menjadi alasannya. Jumhur juga menggunakan dalil ini untuk larangan berpuasa di hari-hari yang dilarang keras berpuasa dan bahkan haram hukumnya puasa apabila disertai kekhawatiran terjadi kematian atau rusaknya bagian organ tubuh disebabkan tidak makan. Mazhab Syafi'i tidak memakruhkan puasa hari Nairous dan Mahrajan.


Menurut Mazhab Hambali :

Dalam hal puasa-puasa yang dimakruhkan, para ulama di mazhab ini berpendapat mirip dengan mazhab Syafi'i hanya ada sedikit penambahan dimana ulama mazhab Hambali memakruhkan puasa Wishol (bersambung dua hari). Namun hukum makruh bisa terangkat jika yang bersangkutan hanya memakan sebiji kurma di malam harinya. Selain itu, makruh puasa dalam perjalanan pendek meskipun tidak terdapat kesulitan. Seandainya yang bersangkutan sengaja melakukan perjalanan karena maksud agar tidak puasa, maka hukum perjalanan dan berbukanya adalah haram.

Makruh menunggalkan puasa di bulan Rajab, karena Nabi melarang puasa penuh di bulan itu. Alasan lain karena hal itu terkesan menghargai atau meneruskan tradisi musyrikin jahiliyah Mekkah. Tapi hukum makruh terangkat meskipun hanya satu hari dari bulan itu tidak berpuasa, atau ia berpuasa sebagai qodho di bulan lain. Adapun bulan-bulan lain selain bulan Rajab tidak dimakruhkan puasa sebulan penuh.

Makruh menunggalkan puasa di hari Nairous (hari ke-4 musim semi) dan hari Mahrajan (hari ke-9 musim gugur). Dua hari ini adalah hari besar kaum yang tidak beriman (kafir) kerana dengan berpuasa di hari itu ada kecocokan dengan mereka dalam hal menghormati hari.

Makruh juga puasa di hari Syak, sama dengan pendapat-pendapat sebelumnya, dan makruh puasa mendahului Ramadhan, sehari atau dua hari. Tapi tidak makruh jika sebelum Ramadhan ia puasa berturut-turut lebih dari dua hari


Referensi
الفقه الإسلامي وأدلته للدكتور وهبة الزحيلي ج ٣ ص ٢٠- ٢١ مكتبة الشاملة

Madzhab Hanafiyah

فقال الحنفية: الصوم المكروه قسمان: مكروه تحريماً، ومكروه تنزيهاً. والمكروه تحريماً: هو صوم أيام العيدين والتشريق وصوم يوم الشك، لورود النهي السابق عن صيامها، فإذا صامها انعقد صومه مع الإثم، ولا يلزم القضاء لمن شرع في صومه وأفسده، لأن المبدأ الأصولي عندهم هو أن النهي المتوجه إلى وصف من أوصاف العمل اللازم له يقتضي فساد الوصف فقط، ويبقى أصل العمل على مشروعيته
والمكروه تنزيهاً: هو إفراد صيام يوم عاشوراء (العاشر من المحرم) عن التاسع أوعن الحادي عشر، وإفراد يوم الجمعة في قول البعض، ويوم السبت، ويوم النيروز (يوم في طرف الربيع) والمهرجان (يوم في طرف الخريف) بالصوم إلا أن يوافق ذلك عادته، فتزول علة الكراهة، أما الجمعة فلقوله صلّى الله عليه وسلم  ( لا تختصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي، ولا تختصوا يوم الجمعة بصيام من بين الأيام إلا أن يكون في صوم يصومه أحدكم (رواه مسلم، ورواه الجماعة عن أبي هريرة بلفظ ( لا تصوموا يوم الجمعة إلا وقبله يوم أو بعده يوم
 وأما السبت: فلقوله صلّى الله عليه وسلم ( لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم، فإن لم يجد أحدكم إلا لحاء عنبة أو عود شجرة، فليمضغه) (رواه أحمد وأصحاب السنن إلا النسائي عن عبد الله بن بُسْر عن أخته الصماء
 وأما النيروز والمهرجان فلأن فيه تعظيم أيام نهينا عن تعظيمها
 ويكره تنزيهاً أيضاً صوم الدهر؛ لأنه يضعفه، ولحديث " لا صام من صام الأبد (متفق عليه بين أحمد والشيخين عن عبد الله بن عمرو
        ويكره صوم الصمت: وهو أن يصوم ولا يتكلم بشيء، وعليه أن يتكلم بخير وبحاجة دعت إليه. ويكره صوم الوصال ولو بين يومين فقط، وهو ألا يفطر بعد الغروب أصلاً حتى يتصل صوم الغد بالأمس، للنهي عنه، قال صلّى الله عليه وسلم  " إياكم والوصال ( متفق عليه عن أبي هريرة
        وقالت عائشة " نهاهم النبي صلّى الله عليه وسلم عن الوصال رحمة لهم، فقالوا: إنك تواصل؟ قال: إني لست كهيئتكم، إني يطعمني ربي ويسقيني (متفق عليه
        ويكره صوم المسافر إذا أجهده الصوم، وصوم المرأة تطوعاً بغير رضا زوجها، وله أن يفطرها، لقيام حقه واحتياجه، إلا أن يكون مريضاً أو صائماً أو محرماً بحج أو عمرة


Madzhab Malikiyyah

وقال المالكية : قال العلامة خليل: يندب صوم الدهر ولا يكره، للإجماع على لزومه لمن نذره، ولو كان مكروهاً أو ممنوعاً لما لزم على القاعدة، ويندب صوم يوم الجمعة ولا يكره لأن محل النهي عن ذلك على خوف فرضه، وقد انتفت هذه العلة بوفاته عليه الصلاة والسلام، وقال ابن جزي: المكروه: صوم الدهر، وصوم يوم الجمعة خصوصاً إلا أن يصوم يوماً قبله، أو يوماً بعده، وصوم السبت خصوصاً، وصوم يوم عرفة بعرفة، وصوم يوم الشك: وهو آخر يوم من شعبان احتياطاً إذا لم يظهر الهلال. وصوم اليوم الرابع من النحر، إلا لقارن أو متمتع أو لمن لزمه هدي لنقص في الحج، أو في حالة النذر والكفارات، فلا يكره

ويكره صوم التطوع لمن عليه صوم واجب كالقضاء، وصوم الضيف بدون إذن المضيف، وصوم يوم المولد النبوي، لأنه شبيه بالأعياد

      ويكره نذر صوم يوم مكرر ككل خميس، لأن التزام يوم متكرر أو دائم يؤدي إلى التثاقل والندم، فيكون لغير الطاعة أقرب. ويكره تطوع بصوم قبل صوم واجب غير معيَّن، كقضاء رمضان وكفارة. أما المعين فلا يكره التطوع فيه. ويكره تعيين صوم الثلاثة البيض من كل شهر وهي الثالث عشر وتالياه، فراراً من التحديد، كما يكره صوم ستة من شوال إن وصلها بالعيد مظهراً لها، ولا يكره إن فرقها أو أخرها أو صامها سراً، لانتفاء علة اعتقاد الوجوب


Madzhab Syafi'iyyah

وقال الشافعية : يكره إفراد الجمعة بالصوم، وإفراد السبت والأحد بالصوم، وصوم الدهر غير العيد والتشريق لمن خاف به ضرراً أو فوت حق واجب أو مستحب، للنهي المتقدم عنها في الأحاديث السابقة، ولخبر البخاري : إن لربك عليك حقاً، ولأهلك عليك حقاً، ولجسدك عليك حقاً : وعليه حمل خبر الصحيحين : لا صام من صام الأبد

ويستحب صوم الدهر لمن لم يخف ضرراً أو فوت حق، لإطلاق الأدلة، ولأنه صلّى الله عليه وسلم قال : من صام الدهر ضيقت عليه جهنم هكذا، وعقد تسعين ( رواه البيهقي وأحمد، ومعنى «ضيقت عليه» أي عنه، فلم يدخلها، أو لا يكون له فيها موضع
        وهذا موافق لمذهب الحنابلة أيضاً
        ويكره صوم المريض والمسافر والحامل والمرضع والشيخ الكبير إذا خافوا مشقة ورأى الجمهور أن الحديث في صوم الدهر على ظاهره، وحملوه على من صام الأيام المنهي عنها. شديدة، وقد يحرم صومهم إذا خافوا الهلاك أو تلف عضو بترك الغذاء. ولا يكره صوم يوم النيروز والمهرجان


Madzhab Hanabilah

  وقال الحنابلة : مثل الشافعية؛ وزادوا أنه يكره صوم الوصال: وهو ألا يفطر بين اليومين، وتزول الكراهة بأكل تمرة ونحوها، ويكره صوم بسفر قصر ولو بلا مشقة، فلو سافر ليفطر حرم السفر والفطر. ويكره إفراد رجب بالصوم؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلم " نهى عن صيامه (رواه ابن ماجه عن ابن عباس، وهو ضعيف. وكل حديث روي في فضل صوم رجب أو الصلاة فيه فكذب باتفاق أهل العلم
 ولأن فيه إحياء لشعار الجاهلية بتعظيمه، وتزول الكراهة بفطره فيه، ولو يوماً، أو بصومه شهراً آخر من السنة، ولايكره إفراد شهر غير رجب بالصوم
 ويكره إفراد يوم نيروز (اليوم الرابع من الربيع) ويوم مهرجان (اليوم التاسع عشر من الخريف) بالصوم، وهما عيدان للكفار، لما فيه من موافقة الكفار في تعظيمهم
       ويكره أيضاً صوم يوم الشك، كما سبق، وتقدم رمضان بصوم يوم أو يومين، ولا يكره تقدمه بأكثر من يومين

HUKUM PUASA 6 HARI SYAWAL

Oleh : Kakek Jhosy
  • HUKUM PUASA 6 HARI SYAWAL 


Monggo kita Kaji bersama Frend . . . . .


من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh
(HR. Muslim)

Pandangan Ulamak Puasa dibulan syawal 6 hari terjadi khilaf

(1) Asy-Syafi'iyah dan sebagian Al-Hanabilah 
Puasa 6 hari Syawwal mengatakan bahwa afdhalnya puasa 6 hari Syawwal itu dilakukan secarar berturut-turut selepas hari raya 'Iedul fithri

(2) Al-Hanabilah 
Tetapi kalangan resmi mazhab Al-Hanabilah tidak membedakan apakah harus berturut-turut atau tidak, sama sekali tidak berpengaruh dari segi keutamaan 
Sehingga dilakukan kapan saja asal masih di bulan Syawwal, silahkan saja. Tidak ada keharusan untuk berturut-turut, juga tidak ada ketentuan harus sejak tanggal 2 Syawwal

(3) Al-Hanafiyah 
Sedangkan kalangan Al-Hanafiyah yang mendukung kesunnahan puasa 6 hari syawwal mengatakan sebaliknya. Mereka mengatakan bahwa lebih utama bila dilakukan dengan tidak berturut-turut. Mereka menyarankan agar dikerjakan 2 hari dalam satu minggu

(4) Al-Malikiyah 
Adapun kalangan fuqaha Al-Malikiyah justru mengatakan bahwa puasa itu menjadi makruh bila dikerjakan bergandingan langsung dengan bulan ramadhan. Iaitu bila dikerjakan mulai pada tanggal 2 syawal selepas hari Idil fitri 


Adapun kalangan Syafi’iyyah, mereka berpendapat puasa enam hari bulan Syawal disunnahkan untuk dilakukan berurutan, sebagaimana dikatakan An-Nawawi berkata  : Dalam kitab Majmu'nya Para shahabat kami berkata : Disunnahkan puasa enam hari bulan Syawal berdasarkan hadits ini’. Mereka juga berkata : ‘Dan juga disunnahkan berpuasa secara berurutan mulai awal Syawal . Namun jika dilakukan secara acak, atau ditunda hingga akhir bulan, maka itu jga dibolehkan, dan orang yang melakukannya telah menjalankan sunnah sesuai dengan keumuman makna hadits dan kemutlakannya. Tidak ada perbedaan (pendapat) di kalangan madzhab kami. Dan ini juga menjadi pendapat Ahmad dan Abu Dawud " Namun pendapat kalangan Syafi’iyyah ini tidak benar, sebab tidak ada dalil yang menunjukkan disunnahkannya berpuasa secara berurutan kecuali keumuman perintah bersegera melaksankan kebajikan. Perintah (puasa Syawal) ini bersifat longgar sebagaimana dijelaskan sebelumnya.


Adapun Kalangan Imam Malik tidak memakruhkan puasa Syawal melainkan karena kekhawatirannya bila itu dilakukan langsung (setelah Ramadlan) orang awam akan menganggapnya termasuk pusa wajib Ramadlan. Aku berpikiran Malik tidaklah jahil tentang hadits ini, wallaahu a’lam, karena itu adalah hadits penduduk Madinah yang diriwayatkan sendiri oleh ‘Umar bin Tsaabit. Bahkan dikatakan Malik meriwayatkan darinya. Jadi, jika Malik tidak mengetahui hadits itu, tentu ia tidak mengingkarinya. Dan aku mengira juga bahwa syaikh ‘Umar bin Tsaabit termasuk orang yang tidak diterima Malik. Apalagi Malik tidak menerima hadits yang diriwayatkannya dari sebagian gurunya karena ia tidak percaya dengan hapalannya pada sebagian riwayatnya. Atau mungkin juga Malik memang tidak tahu hadits tersebut. Sebab jika ia tahu, tentu ia tidak mengatakan demikian (mengingkari puasa Syawal)


Sedangkan dalam kitab Nailul-Authaar  Abu Hanifah dan Malik berkata : Makruh hukumnya puasa Syawal. Mereka berargumentasi bahwa mungkin itu akan dianggap puasa wajib. Ini adalah pendapat yang bathil dan tidak pantas dilakukan oleh orang yang memiliki akal pikiran, apalagi seorang ulama seperti mereka dalam menentang sunnah yang shahih dan sharih (jelas)Kemudian pandangan seperti itu akan berlaku pula pada semua puasa yang dianjurkan agama dan tak seorang pun yang mengatakan demikian.

Sementara Malik berargumentasi dalam memakruhkannya sebagaimana yang ia katakan dalam Al-Muwaththa’ bahwa ia tidak pernah melihat seorang pun ulama yang melakukannya. Padahal sangat jelas bahwa bila manusia tidak mengamalkan sunnah, tidak berarti itu dapat menolak sunnah

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata : Tidak mengapa ia berpuasa, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Enam hari dari bulan Syawwal’. Maka bila seseorang berpuasa enam hari tersebut, tidak masalah apakah ia dilakukan secara acak atau berturutan.

Dalam kitab Syarh Muslim dijelaskan 
Para ulama mengatakan bahwa hal itu sebanding dengan puasa setahun karena satu kebaikan balasannya sepuluh kali lipat dan puasa sebulan Ramadlan sama dengan puasa sepuluh bulan, sedang puasa enam hari sama dengan puasa dua bulan. Keterangan ini juga terdapat pada hadits marfu’ dalam kitab An-Nasa’i

Referensi
الفقه على المذاهب الأربعة ج ١ ص ٨٩١
يندب صوم ستة من شوال مطلقا بدون شروط عند الأئمة الثلاثة وخالف المالكية والأفضل أن يصومها متتابعة بدون فاصل عند الشافعية والحنابلة أما المالكية والحنفية فانظر مذهبيهما تحت الخط  " المالكية قالوا : يكره صوم ستة أيام من شوال بشروط 
١  أن يكون الصائم ممن يقتدي به أو يخاف عليه أن يعتقد وجوبها 
 ٢  أن يصومها متصلة بيوم الفطر 
 ٣  أن يصومها متتابعة 
٤  أن يظهر صومها فإن انتقى شرط من هذه الشروط فلا يكره صومها إلا إذا اعتقد أن وصلها بيوم العيد سنة فيكره صومها ولو لم يظهرها أو صامها متفرقة 
الحنفية قالوا : تستحب أن تكون متفرقة في كل أسبوع يومان 

Referensi
الموسوعة الفقهية الكويتية ج ٢٨ ص ٩٢
ذهب جمهور الفقهاء - المالكية ، والشافعية ، والحنابلة ، ومتأخرو الحنفية - إلى أنه يسن صوم ستة أيام من شوال بعد صوم رمضان ... ونقل عن أبي حنيفة - رحمه الله تعالى - كراهة صوم ستة من شوال ، متفرقا كان أو متتابعا . وعن أبي يوسف : كراهته متتابعا ، لا متفرقا . لكن عامة المتأخرين من الحنفية لم يروا به بأسا . قال ابن عابدين ، نقلا عن صاحب الهداية في كتابه التجنيس : والمختار أنه لا بأس به ، لأن الكراهة إنما كانت لأنه لا يؤمن من أن يعد ذلك من رمضان ، فيكون تشبها بالنصارى ، والآن زال ذلك المعنى ، واعتبر الكاساني محل الكراهة : أن يصوم يوم الفطر ، ويصوم بعده خمسة أيام ، فأما إذا أفطر يوم العيد ثم صام بعده ستة أيام فليس بمكروه ، بل هو مستحب وسنة . وكره المالكية صومها لمقتدى به ، ولمن خيف عليه اعتقاد وجوبها ، إن صامها متصلة برمضان متتابعة وأظهرها ، أو كان يعتقد سنية اتصالها ، فإن انتفت هذه القيود استحب صيامها . قال الحطاب : قال في المقدمات : كره مالك - رحمه الله تعالى - ذلك مخافة أن يلحق برمضان ما ليس منه من أهل الجهالة والجفاء ، وأما الرجل في خاصة نفسه فلا يكره له صيامها 

Referensi
أسنى المطالب ج ١ ص ٤٣١
 قوله وستة من شوال ) أطلق وقضيته استحباب صومها لكل أحد سواء أصام رمضان أم لا كمن أفطر لعذر صبا أو مرض أو جنون أو سفر أو غيرها ومن فاته رمضان فصام عنه شوالا استحب له أن يصوم ستا من ذي القعدة لأنه يستحب قضاء الصوم الراتب وكتب أيضا وعبارة كثير يستحب لمن صام رمضان أن يتبعه بستة من شوال كلفظ الحديث ومقتضاها قصر ذلك عليه ولا شك أن من تعدى بالفطر يلزمه القضاء على الفور على الأصح وقد قال المحاملي وشيخه والجرجاني يكره لمن عليه قضاء رمضان أن يتطوع بالصوم فخرج هؤلاء ويبقى النظر في الصبي والمجنون يكملان والكافر يسلم والمعنى المتقدم في استحباب صوم الستة يقتضي عدم استحبابها لمن ذكر ومن فاته رمضان فصام عنه شوالا استحب له أن يصوم ستا من ذي القعدة لأنه يستحب قضاء الصوم الراتب

Referensi
فتح القدير ج ٢ ص ٣٥٠
صوم ستة من شوال عن أبي حنيفة وأبي يوسف كراهته , وعامة المشايخ لم يروا به بأسا , واختلفوا فقيل: الأفضل وصلها بيوم الفطر , وقيل: بل تفريقها في الشهر. وجه الجواز أنه قد وقع الفصل بيوم الفطر فلم يلزم التشبه بأهل الكتاب , وجه الكراهة أنه قد يفضي إلى اعتقاد لزومها من العوام لكثرة المداومة , ولذا سمعنا من يقول يوم الفطر: نحن إلى الآن لم يأت عيدنا أو نحوه , فأما عند الأمن من ذلك فلا بأس لورود الحديث به . 

Referensi
نيل الاوطار ج ٤ ص ٢٨٢
يكره صومها واستدلا على ذلك بأنه ربما ظن وجوبها وهو باطل لا يليق بعاقل فضلاً عن عالم نصب مثله في مقابلة السنة الصحيحة الصريحة وأيضاً يلزم مثل ذلك في سائر أنواع الصوم المرغب فيها ولا قائل به
واستدل مالك على الكراهة بما قال في الموطأ من أنه ما رأى أحداً من أهل العلم يصومها ولا يخفى أن الناس إذا تركوا العمل بسنة لم يكن تركهم دليلاً ترد به السنة

Referensi
المجموع شرح المهذب ج ٦ ص ٢٢٧
فقال أصحابنا: يستحب صوم ستة أيام من شوال; لهذا الحديث قالوا: ويستحب أن يصومها متتابعة في أول شوال فإن فرقها أو أخرها عن شوال جاز. وكان فاعلا لأصل هذه السنة ; لعموم الحديث وإطلاقه. وهذا لا خلاف فيه عندنا وبه قال أحمد وداود. قال مالك وأبو حنيفة: يكره صومها. قال مالك في الموطإ: " وصوم ستة أيام من شوال لم أر أحدا من أهل العلم والفقه يصومها , ولم يبلغه ذلك عن أحد من السلف وأن أهل العلم كانوا يكرهون ذلك ويخافون بدعته , وأن يلحق برمضان أهل الجفاء والجهالة ما ليس منه لو رأوا في ذلك رخصة عند أهل العلم , ورأوهم يعملون ذلك " هذا كلام مالك في الموطإ. ودليلنا الحديث الصحيح السابق ولا معارض له. وأما قول مالك: " لم أر أحدا يصومها " فليس بحجة في الكراهة ; لأن السنة ثبتت في ذلك بلا معارض , فكونه لم ير لا يضر. وقولهم: لأنه قد يخفى ذلك فيعتقد وجوبه ضعيف; لأنه لا يخفى ذلك على أحد , ويلزم على قوله: ( إنه يكره ) صوم يوم عرفة وعاشوراء وسائر الصوم المندوب إليه. وهذا لا يقوله أحد. 

Referensi
شرح مسلم ج ٣ ص ٢٣٨
قال العلماء: وإنما كان ذلك كصيام الدهر لأن الحسنة بعشر أمثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين، وقد جاء هذا في حديث مرفوع في كتاب النسائي

Wallohu A'lam bis-Shawaab

Link Asal : https://www.facebook.com/groups/Fiqhsalafiyyah/permalink/501345279936832/